# Jen Ellis: Menjembatani Cyber dan Politik

> Jen Ellis mempelopori upaya menghubungkan komunitas cybersecurity dengan mesin politik untuk membentuk kebijakan berbasis teknis.

**URL:** https://www.ciptadusa.com/blog/cyber-community-political-engagement-20260711  
**Type:** blog  
**Author:** PT Cipta Dua Saudara  
**Category:** Keamanan Aplikasi  
**Published:** 2026-07-11  
**Cover:** https://cdn-uagents.enitip.com/uploads/blog/2026-07/daily-appsec-20260711-014950.jpg  

## Article

Cybersecurity selama ini berbicara dalam bahasa teknis — CVE, CVSS, zero-day, patch cycle. Politik berbicara dalam bahasa anggaran, konstituen, dan siklus pemilu. Jen Ellis sedang membangun jembatan di antara keduanya.

## Ringkasan

Jen Ellis mempelopori upaya menghubungkan komunitas cybersecurity dengan mesin politik, memastikan kebijakan keamanan siber dibentuk oleh orang-orang yang benar-benar memahami ancaman di lapangan.

## Latar Belakang

Ada jurang komunikasi yang dalam antara praktisi keamanan siber dan pembuat kebijakan. Legislator sering membuat regulasi tanpa pemahaman teknis yang memadai — menghasilkan undang-undang yang terlalu luas, terlalu sempit, atau justru kontraproduktif. Di sisi lain, komunitas security cenderung berbicara di echo chamber sendiri: konferensi, mailing list, dan forum yang tidak pernah menyentuh ruang-ruang di mana kebijakan benar-benar dibuat.

**Jen Ellis** — dikenal melalui perannya di Rapid7 dan kontribusinya pada kebijakan vulnerability disclosure — mengambil pendekatan yang berbeda. Alih-alih menunggu pemerintah "mengerti teknologi," ia aktif memfasilitasi dialog langsung antara researcher, defender, dan pejabat pemerintah.

Model ini bukan sekadar advocacy. Ini adalah knowledge transfer terstruktur: menerjemahkan realitas teknis ke dalam bahasa yang actionable untuk policy maker, sambil memastikan feedback loop kembali ke komunitas teknis.

## Pendekatan

Pendekatan Ellis mengungkap pola yang bisa direplikasi:

- **Bicara dalam bahasa dampak, bukan dalam bahasa exploit.** Legislator tidak perlu memahami buffer overflow — mereka perlu memahami bahwa 60% ransomware masuk melalui vulnerability yang sudah ada patch-nya selama 6 bulan.
- **Bangun hubungan sebelum krisis.** Komunikasi darurat di tengah insiden besar tidak efektif jika tidak ada fondasi trust yang sudah terbangun sebelumnya.
- **Libatkan komunitas secara inklusif.** Kebijakan yang hanya dibentuk oleh vendor besar mengabaikan perspektif independent researcher, small-team defender, dan sektor publik.

Bagi organisasi di Indonesia, di mana regulasi keamanan siber sedang dalam fase pembentukan aktif — termasuk implementasi UU PDP dan penguatan BSSN — model ini sangat relevan. Komunitas security lokal memiliki kesempatan untuk tidak hanya menjadi objek regulasi, tetapi partisipan aktif dalam pembentukannya.

## Referensi

- [Jen Ellis: Connecting Cyber Community With Political Machinery — Dark Reading](https://www.darkreading.com/cybersecurity-operations/jen-ellis-connecting-cyber-community-political-machinery)
- [Cybersecurity Policy and Governance — CISA](https://www.cisa.gov/topics/cybersecurity-best-practices)
- [UU Pelindungan Data Pribadi — BSSN](https://www.bssn.go.id/)

---

*Markdown version of https://www.ciptadusa.com/blog/cyber-community-political-engagement-20260711 — generated for AI agents and LLM crawlers.*
